Penulis: Doi Ahada
BANGKABARAT, JANGKAUANNEWS.COM— Ada perjalanan yang tidak selalu diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, tetapi dari seberapa konsisten ia terus melangkah.
Perjalanan itu pula yang tergambar dari sosok Deddi Wijaya, SH, MH, MKn. Di tengah kesibukannya sebagai politisi dan anggota legislatif, Deddi tetap menyempatkan diri menuntaskan perjalanan akademiknya.
Pada 3 September 2026, Deddi Wijaya resmi menjalani yudisium Magister Kenotariatan di Universitas Pancasila.
Momen tersebut menjadi catatan penting dalam perjalanan hidup seorang politisi yang sejak lama menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dalam membangun kapasitas diri.
Ucapan selamat dan sukses pun layak disampaikan kepada Deddi Wijaya atas pencapaian akademik tersebut.
Bagi Deddi, pendidikan bukan sekadar gelar yang melekat di belakang nama. Pendidikan menjadi bagian dari proses memperkaya wawasan, memperkuat kemampuan berpikir dan memperbesar tanggung jawab ketika dipercaya masyarakat.
Perjalanan akademiknya memang tidak berhenti pada satu jenjang.
Deddi sebelumnya menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Pancasila. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan Magister Hukum di Universitas Jayabaya. Pada 2024, ia kembali menempuh pendidikan Magister Kenotariatan di Universitas Pancasila.
Perjalanan pendidikan tersebut berjalan beriringan dengan aktivitasnya di dunia politik dan pengabdian kepada masyarakat.
Dari Dunia Pendidikan ke Ruang Pengabdian
Deddi Wijaya bukan nama baru dalam panggung politik Bangka Belitung.
Ia pernah dipercaya menjadi anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung periode 2014–2019 dari Partai Golkar. Setelah itu, pada Pemilu 2024, ia kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat dan terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Bangka Barat periode 2024–2029 dari daerah pemilihan Mentok.
Kehadirannya di dunia politik juga tidak hanya berbicara tentang perebutan kursi kekuasaan.
Di tingkat partai, Deddi dipercaya memimpin DPD II Partai Golkar Bangka Barat. Pada Musda Partai Golkar Bangka Barat Januari 2026, ia kembali dipercaya memimpin partai tersebut untuk periode 2026–2031.
Kepercayaan tersebut sekaligus memperlihatkan perjalanan panjang Deddi dalam membangun komunikasi politik dan menjaga hubungan dengan masyarakat.
Di parlemen, ia pernah dipercaya menduduki posisi Wakil Ketua Komisi I DPRD Bangka Barat.
Salah satu perhatian yang pernah ia tunjukkan adalah persoalan Desa Bakit, Kecamatan Parittiga, terkait kekosongan jabatan kepala desa definitif. Deddi mendorong agar persoalan tersebut diselesaikan berdasarkan aspirasi masyarakat sekaligus tetap berpedoman pada regulasi.
Ia bahkan meminta pemerintah desa berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri agar proses Pergantian Antar Waktu kepala desa memiliki dasar hukum yang jelas.
Sikap tersebut menggambarkan satu karakter yang cukup menonjol dari Deddi: mendorong penyelesaian persoalan masyarakat melalui jalur dialog, kelembagaan dan aturan.
Ketika Pendidikan, Generasi Muda dan Olahraga Menjadi Perhatian
Perhatian Deddi terhadap masyarakat juga terlihat dari kepeduliannya terhadap dunia pendidikan dan generasi muda.
Pada 2025, ia turut mendampingi anggota DPRD Provinsi Babel dari Fraksi Golkar, Leviyan, meninjau kondisi ruang kelas SMAN 1 Mentok yang ketika itu mendapat sorotan karena sejumlah ruang kelas belum memiliki dinding dan jendela secara layak.
Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya menindaklanjuti persoalan yang ditemukan di tengah masyarakat.
Di bidang olahraga, Deddi juga memberikan perhatian terhadap keberlangsungan pembinaan atlet di Bangka Barat.
Ketika terjadi persoalan yang mengganggu keberlangsungan organisasi KONI Bangka Barat, Komisi I DPRD menggelar rapat dengar pendapat. Deddi menegaskan bahwa persoalan organisasi jangan sampai membuat pembinaan olahraga dan prestasi atlet ikut terhenti.
Baginya, pembinaan olahraga harus tetap berjalan karena menyangkut masa depan generasi muda Bangka Barat.
Dari pendidikan hingga olahraga, benang merahnya sama: membangun manusia dan membuka ruang bagi generasi muda untuk berkembang.
Tegas Bicara Timah dan Kepentingan Daerah
Sebagai politisi yang berasal dari daerah dengan sejarah panjang pertambangan timah, Deddi juga beberapa kali menyuarakan pentingnya penegakan hukum terhadap praktik penyelundupan timah ilegal.
Pada Mei 2026, ia memberikan dukungan terhadap langkah Polres Bangka Barat dalam memberantas penyelundupan pasir timah ilegal lintas negara. Ia menilai penindakan terhadap praktik tersebut penting untuk melindungi kekayaan daerah dan kepentingan masyarakat.
Sikap itu kembali terlihat setelah Pengadilan Negeri Mentok menolak permohonan praperadilan tersangka perkara penyelundupan timah. Deddi mengapresiasi keputusan tersebut dan menilai penegakan hukum harus berjalan tegas.
Bahkan setelah Haryanto alias Ahyen divonis tiga tahun penjara dan denda Rp100 juta pada Agustus 2026, Deddi kembali menyampaikan pandangannya.
Menurutnya, vonis tersebut jangan dipandang sebagai akhir dari persoalan. Ia mendorong aparat penegak hukum menelusuri kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas di balik penyelundupan timah ilegal.
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa perhatian Deddi terhadap persoalan timah tidak semata-mata berada pada aspek penindakan terhadap pelaku di lapangan, tetapi juga menyangkut bagaimana kekayaan alam daerah dapat dikelola dan dilindungi untuk kepentingan masyarakat.
Gelar Baru, Tanggung Jawab yang Semakin Besar
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan Magister Kenotariatan di Universitas Pancasila, Deddi Wijaya memiliki tambahan bekal akademik di bidang hukum dan kenotariatan.
Namun, di balik toga dan gelar akademik itu, ada pesan yang jauh lebih penting.
Bahwa belajar tidak mengenal usia.
Bahwa kesibukan sebagai politisi bukan alasan untuk berhenti meningkatkan kapasitas diri.
Dan bahwa semakin tinggi pendidikan yang diraih, semakin besar pula tuntutan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
Perjalanan Deddi Wijaya menjadi contoh bahwa dunia politik dan pendidikan dapat berjalan beriringan. Di satu sisi menjalankan amanah sebagai wakil rakyat, di sisi lain terus memperkaya wawasan akademik.
Dari ruang kuliah menuju ruang rapat DPRD. Dari diskusi akademik menuju persoalan masyarakat. Dari dunia partai menuju aspirasi warga.
Semua itu menjadi bagian dari perjalanan Deddi Wijaya.
Selamat dan sukses kepada Deddi Wijaya, SH, MH, MKn atas yudisium Magister Kenotariatan di Universitas Pancasila pada 3 September 2026.
Semoga capaian akademik tersebut semakin memperkuat langkah, memperluas pengabdian, serta memberikan energi baru bagi Deddi Wijaya untuk terus hadir dan bekerja bagi masyarakat Bangka Belitung.
Sebab pada akhirnya, gelar bukanlah garis akhir.
Gelar adalah bekal untuk melanjutkan pengabdian. (JK,Radak)













