SUNGAILIAT,JANGKAUANNEWS.COM – Nelayan tradisional Sungailiat mulai menjerit akibat sedimentasi yang diakibatkan oleh aktifitas penambangan yang menjamur dekat pintu keluar masuk muara air Kantung Sungailiat.
Terlihat puluhan unit ponton ti rajuk jenis tower sedang melakukan ekploitasi yang jaraknya dekat sekali dengan sepadan pantai yang ada dipesisir jelitik -rambak.
Akibat menjamurnya aktifitas penambangan disana, nelayan tradisional Sungailiat mengeluh lantaran perahu yang mereka gunakan untuk mencari nafkah kerap kandas akibat jalur lintas yang mereka gunakan tertutup pasir tailing.
Tak cuma itu saja, tailing hasil limbah penambangan disana terlihat sudah menjadi daratan.
Menurut salah satu nelayan tradisional setempat, Am mengatakan, sejak menjamurnya aktifitas penambangan dekat pintu masuk muara air Kantung Sungailiat, banyak perahu nelayan yang kandas, baik saat hendak masuk alur muara maupun hendak keluar.
“Dulunya walau sering kandas tapi masih bisa disiasati, kalau sekarang, minta ampun lah. Kami susah nek nyarik makan kalau seperti ini terus,”katanya.
Senada dikatakan nelayan tradisional lainnya, Bd. Pada kesempatan itu, Bd mengatakan, sejak menjamurnya ti rajuk tower disana, mereka harus menempuh belasan hingga puluhan mil menangkap ikan.
“Hasil tangkap berkurang, perahu keluar masuk sering kandas. Bahkan kami harus menempuh puluhan mil biar bisa dapat ikan,”katanya.
Dia menambahkan, kendati ada pos polairud ada disana, yang mana jaraknya dekat sekali lokasi yang ditambang, tak ada sikap atau tindakan yang dilakukan oleh pihak berwajib.
“Kita tidak tau legal atau ilegal. Yang kita tau ada pos airud disana. Laut ini tempat kami cari makan dari jaman nenek moyang kami dulu. Jadi kami harap , airud itu jangan tutup mata,”katanya.
Ia juga mempertanyakan pihak mana yang akan bertanggungjawab atas kerusakan atas puluhan unit ti rajuk jenis tower yang menambang dekat sepandan pantai jelitik.
“Ayo siapa yang mau tanggung jawab atas kerusakan ini, pihak cv atau yang pihak yang mengeluarkan IUP. Lihat pakai mata, laut itu ada yang sudah menjadi daratan. Apa itu bukan pelanggaran, mikir dong pakai otak,”ucapnya dengan nada tinggi.
Sementara, sejumlah nelayan tradisional lainnya menambahkan, keluhan yang mereka sampaikan ini bukan untuk menunjukkan kalau mereka anti tambang.
“Jadi perlu dipertegas kami bukan anti tambang. Silahkan nambang tapi jangan merugikan kami sebagai nelayan. Kalau seperti ini mereka itu justru mau menutup periuk kami di rumah,”katanya.
Terpisah, salah satu penambang yang sempat ditemui dilapangan mengaku, puluhan unit ti rajuk tersebut beroperasi dalam IUP PT Timah, dimana pasir timah hasil penambangan dilokasi ditampung olehbanyak CV.( Jk, Rdak)













