
Gambar ini Hanya Ilustrasi Pelengkap Berita(AI/IST)
Penulis : Radak Babel
BANGKA, JANGKAUANNEWS.COM ~~ Aroma kekerasan kembali menyeruak dari balik tembok pendidikan agama. Pondok Pesantren Daarul Abror, Desa Kace, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, kini disorot tajam setelah seorang santri berinisial AZ (15) diduga menjadi korban penganiayaan brutal dan praktik perundungan oleh sekitar 10 orang seniornya.
Peristiwa yang terjadi pada Minggu, 12 April 2026 itu bukan sekadar insiden biasa. Ini adalah potret kelam yang memperlihatkan bagaimana ruang pendidikan bisa berubah menjadi arena kekerasan yang sistematis dan berulang.
Korban AZ harus dilarikan ke Klinik Intan Medika Pangkalpinang dalam kondisi luka serius. Memar di bagian dada dan kepala menjadi bukti nyata kerasnya aksi yang diterima korban. Bahkan, dugaan penggunaan benda seperti rantai dalam penganiayaan itu semakin memperparah kondisi korban.
Zainuddin Pay, perwakilan keluarga korban, dengan nada geram membongkar fakta yang lebih mencengangkan.
“Bagian kepala, dada memar dipukul pakai rantai,” ungkapnya.
Namun yang lebih mengejutkan, menurut Pay, kejadian ini bukan yang pertama.
“Ini sudah yang keenam kali. Sebelumnya ada yang luka di geraham, kepala, bahkan sampai tangan patah,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi tamparan keras bagi pihak pengelola pesantren. Dugaan pembiaran dan lemahnya pengawasan pun tak terelakkan. Di balik citra religius yang tampak di luar, muncul tudingan serius bahwa sistem internal justru rapuh dan gagal melindungi para santri.
“Luarnya bagus, tapi dalamnya bobrok. Kami menilai ini kelalaian serius. Sudah banyak korban, tapi seperti tidak ada perubahan,” kecam Pay dengan nada tinggi.
Kini, keluarga korban tidak tinggal diam. Meski masih menunggu kondisi AZ stabil, langkah hukum sudah berada di depan mata.
“Kalau kondisi memungkinkan, kami akan laporkan. Kasus ini harus diusut tuntas,” tegasnya.
Kasus ini membuka kembali luka lama dugaan kekerasan yang berulang di lingkungan pesantren tersebut. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah ini terjadi, tapi mengapa bisa terus terjadi tanpa tindakan tegas?
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak Pondok Pesantren Daarul Abror masih dalam upaya konfirmasi. Publik menunggu apakah akan ada klarifikasi, atau justru kembali sunyi di balik dinding pesantren.(Jk,Rdak)













