floating
Berita  

PLTN di Pulau Gelasa: Eksperimen Berisiko atas Nama Pembangunan


Oleh: Iwan Carlos
Wartawan Jangkauannews
OPINI, JANGKAUANNEWS.COM — Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Pulau Gelasa, Bangka Belitung, bukan sekadar proyek energi. Ia adalah pertaruhan besar atas keselamatan lingkungan, masa depan sosial-ekonomi, serta kedaulatan masyarakat Pulau Bangka secara luas. Terlebih ketika teknologi yang ditawarkan—Molten Salt Reactor (MSR)—belum pernah terbukti berhasil secara komersial di dunia, bahkan dalam sejarah panjang riset nuklir global.

Thorcon Power Indonesia mengusung teknologi MSR sebagai solusi masa depan lebih aman, lebih murah, dan lebih efisien. Namun klaim ini justru memunculkan paradoks serius. Teknologi MSR memang telah diteliti sejak 1950-an, tetapi hingga hari ini belum ada satu pun negara yang mengoperasikannya secara komersial.

Reaktor Eksperimental Molten Salt (MSRE) di Oak Ridge National Laboratory, Amerika Serikat, yang sering dijadikan rujukan, hanya beroperasi singkat pada 1965–1969 dan kemudian dihentikan. Tidak ada kelanjutan, tidak ada replikasi, dan tidak ada pembuktian keberhasilan jangka panjang. Fakta ini tidak bisa diabaikan.
Jika MSR benar-benar aman dan menjanjikan, mengapa negara-negara maju dengan kemampuan teknologi, pendanaan, dan sistem keselamatan jauh di atas Indonesia tidak menggunakannya? Mengapa justru Pulau kecil seperti Gelasa, dengan ekosistem rentan dan masyarakat yang hidup dari laut serta darat secara tradisional, yang dipilih sebagai lokasi “PLTN pertama”?
Di sinilah kecurigaan publik menjadi sah dan rasional.

Pulau Bangka Bukan Laboratorium Nuklir
Pulau Gelasa bukan ruang kosong di peta. Ia terhubung secara ekologis, sosial, dan ekonomi dengan Pulau Bangka dan wilayah Bangka Belitung secara keseluruhan. Setiap potensi kegagalan sekecil apa pun akan berdampak luas pencemaran laut, rusaknya jalur tangkap nelayan, degradasi lingkungan pesisir, hingga ancaman kesehatan jangka panjang akibat paparan radiasi.

Masalah limbah nuklir menjadi titik krusial yang kerap diremehkan dalam narasi promosi PLTN.

Limbah MSR tetaplah limbah radioaktif tingkat tinggi yang berbahaya hingga ratusan bahkan ribuan tahun.

Indonesia, hingga hari ini, belum memiliki sistem penyimpanan limbah nuklir permanen yang terbukti aman. Maka pertanyaannya sederhana limbah itu akan dikubur di mana? Di tanah Bangka? Di laut sekitar Babel? Atau diwariskan sebagai bom waktu bagi generasi mendatang?
Teknologi boleh diklaim bertekanan rendah dan “lebih aman”, tetapi risiko kegagalan tetap ada. Bahkan dalam sistem nuklir paling mapan sekalipun, sejarah mencatat tragedi besar Chernobyl, Fukushima, Three Mile Island. MSR, dengan tingkat kompleksitas tinggi dan pengalaman operasional nyaris nol, justru memiliki rasio ketidakpastian yang jauh lebih besar daripada keberhasilannya.

Persetujuan BAPETEN dan Tanda Tanya Publik
Persetujuan evaluasi tapak oleh BAPETEN seharusnya menjadi proses teknokratis yang ketat dan transparan. Namun di mata publik Bangka Belitung, keputusan ini justru menimbulkan kebingungan dan kecurigaan.

Siapa yang merekomendasikan Pulau Gelasa? Atas dasar kajian apa? Sejauh mana masyarakat dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan?
Pembangunan PLTN bukan proyek biasa yang bisa disahkan hanya dengan pendekatan administratif. Ia menyangkut hak hidup, hak atas lingkungan yang sehat, dan hak menentukan masa depan wilayah. Ketika masyarakat merasa “tidak pernah benar-benar diajak bicara”, maka wajar jika muncul dugaan adanya modus lain mulai dari kepentingan bisnis global, eksperimen teknologi berisiko, hingga menjadikan daerah pinggiran sebagai lokasi uji coba yang tidak akan diterima di negara asal teknologi tersebut.

Energi untuk Siapa, Risiko untuk Siapa?
Narasi kebutuhan listrik nasional sering dijadikan tameng. Namun Pulau Bangka Belitung bukan wilayah krisis energi akut. Potensi energi terbarukan—surya, angin, biomassa—masih sangat besar dan jauh lebih selaras dengan karakter kepulauan. Mengapa opsi yang relatif aman dan berkelanjutan justru tidak menjadi prioritas?
Pertanyaan yang lebih tajam perlu diajukan: siapa yang paling diuntungkan dari PLTN ini, dan siapa yang menanggung risikonya? Jawabannya terlihat timpang. Keuntungan ekonomi dan teknologi cenderung mengalir ke investor dan korporasi, sementara risiko ekologis, sosial, dan kesehatan diwariskan kepada masyarakat lokal.

Penutup Jangan Normalisasi Bahaya
Menerima PLTN MSR di Pulau Gelasa tanpa perdebatan publik yang luas sama saja dengan menormalisasi bahaya atas nama kemajuan.

Bangka Belitung memiliki sejarah panjang eksploitasi sumber daya dari timah hingga laut yang meninggalkan luka ekologis mendalam. Jangan biarkan babak baru eksploitasi hadir dalam wujud yang lebih sunyi, lebih teknologis, namun jauh lebih berbahaya.

Pulau Bangka bukan tempat uji coba. Pulau Gelasa bukan laboratorium. Dan masyarakat Bangka Belitung bukan objek eksperimen energi global.

Jika pembangunan benar-benar untuk rakyat, maka keselamatan rakyat harus menjadi titik awal bukan korban terakhir. (jk)

error: Content is protected !!